Rabu, 14 November 2012

Hujan Keberkahan Bersama


Dalil-Dalil Keberkahan Hujan
Allah ta’ala berfirman :
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (mubaarak)…” [QS. Qaaf : 9].
Yaitu : Banyaknya kebaikan dan barakah.[1]
Allah jalla wa ‘alaa juga berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” [QS. Al-A’raf : 96].
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :
أي قطر السماء ونبات الأرض
“Yaitu hujan dari langit dan tumbuh-tumbuhan di bumi”.[2]
Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairahradliyallaahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
((ما أنزل الله من السماء من بركة إلا أصبح فريق من الناس بها كافرين. ينزل الله الغيث فيقولون : الكوكب كذا وكذا)) وفي رواية : ((بكوكب كذا وكذا)).
“Tidaklah Alah menurunkan berkah dari langit melainkan ada sekelompok manusia yang menjadi kafir. Allah menurunkan hujan, lalu mereka berkata : ‘Bintang ini dan itu’ – dan dalam riwayat lain : - dengan sebab bintang ini dan itu”.[3]
Keberkahan Hujan dan Manfaatnya
Di antara keberkahan hujan adalah manusia dapat minum darinya, serta hewan-hewan ternak dan melata. Ia juga dapat menumbuhkan buah-buahan, pepohonan, dan rerumputan.
Oleh karena itu, air dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup sebagaimana firman Allah ta’ala :
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [QS. Al-Anbiyaa’ : 30].
Al-Imam Ibnu Jariir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya mengenai ayat ini :
وأحيينا بالماء الذي ننزله من السماء كل شيء
“Dan Kami (Allah) menghidupkan segala sesuatu dengan air yang Kami turunkan dari langit”.[4]
Maka, hujan bermanfaat bagi manusia dalam banyak kebutuhan hidup mereka.
Allah tabaaraka wa ta’ala telah mensifatkan manfaat dan keberkahan turunnya hujan kepada makhluknya sebagai satu nikmat pada banyak ayat dalam Al-Qur’an Al-Kariim. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ * يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.[5] Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” [QS. An-Nahl : 10-11].
Juga firman-Nya :
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا * لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا * وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلا كُفُورًا
“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)” [QS. Al-Furqaan : 48-50].
Juga firman Allah tabaaraka wa ta’ala :
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ * وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ * رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ
“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam[6], dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun. untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” [QS. Qaaf : 9-11].
Allah ta’ala menyebutkan hujan sebagai kebersihan dan rahmat, sebagaimana telah lalu penjelasannya. Allah juga menamainya dengan rizki, berdasarkan firman-Nya :
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
“Dan rizki yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya” [QS. Al-Jaatsiyyah : 5].
Al-Imam Al-Baghawiy rahimahullah berkata :
يعني الغيث الذي هو سبب أرزاق العباد.
“Yaitu hujan yang merupakan sebab diberikannya rizki seorang hamba”.[7]
Berdasarkan penjelasan mengenai manfaat hujan dan kebaikan yang banyak darinya, maka hujan adalah sesuatu yang diberkahi (mubaarak).
Disyari’atkannya shalat istisqaa’ ketika terjadi kekeringan dan lama tidak turun hujan, sebagaimana hal itu telah diketahui.
Hal yang Disyari’atkan Ketika Hujan Turun
Disyari’atkan ketika hujan turun untuk mengucapkan :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّباً نَافِعاً.
“Ya Allah, jadikanlah hujan yang bermanfaat”.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy.[8]
Juga hendaknya ia mengucapkan :
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah”.
Doa ini berdasarkan hadits yang terdapat dalam Shahiihain, bahwasannya Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para shahabatnya pada suatu hari yang malam harinya diguyur hujan :
(هل تدرون ماذا قال ربكم). قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: (أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر، فأما من قال: مطرنا بفضل الله ورحمته، فذلك مؤمن بي كافر بالكواكب، وأما من قال: بنوء كذا وكذا، فذلك كافر بي مؤمن بالكواكب).
“Apakah kalian tahu apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian ?”. Para shahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Allah telah berfirman : ‘Pagi hari ini ada di antara hambaku yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun yang berkata : ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’ ; maka ia telah beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Adapun yang berkata : ‘Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu’ ; maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang”.[9]
Disunnahkan untuk berhujan-hujan saat turun hujan dan mengeluarkan kendaraan dan bajunya akan terkena hujan.
Perbuatan tersebut didasarkan oleh hadits yang terdapat pada Shahiihain, dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu dalam istisqaa’-nya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at. Dalam hadits itu disebutkan :
ثم لم ينزل عن منبره حتى رأيت المطر يتحادر على لحيته.
“Kemudian, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam belum lagi turun dari minbar, aku melihat hujan telah membasahi jenggot beliau”.[10]
Juga hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
أصابنا ونحن مع رسول الله صلى الله عليه وسلم مطر. قال : حسر رسول الله صلى الله عليه وسلم ثوبه حتى أصابه المطر فقلنا يا رسول الله لم صنعت هذا؟ قال: لأنه حديث عهد بربه
“Kami pernah diguyur hujan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyingkap[11] pakaiannya hingga terkena hujan. Kami pun bertanya kepada beliau : ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan itu ?’. Beliau menjawab : ‘Karena hujan baru saja diturunkan oleh Rabb-nya”.[12]
Al-Imam Al-Bukhariy meriwayatkan dalam kitab Al-Adabul-Mufrad, bahwasannya Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma apabila turun hujan dari langit, ia berkata :
يا جارية، أخرجي سرجي، أخرجي ثيابي. ويقول : (وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ َ مَاءً مُبَارَكاً).
“Wahai pelayan, keluarkanlah pelanaku dan pakaianku”. Kemudian ia (Ibnu ‘Abbas) membaca ayat : “Dan Kami turunkan dari langit air yang dibekahi”.[13]
[selesai – diambil dari buku At-Tabarruk, Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu oleh Dr. Naashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad Al-Juda’iy, hal. 183-186; Maktabah Ar-Rusyd, Cet. Thn. 1411 H, Riyadl – Abul-Jauzaa’, 21 Ramadlan 1430 H].
Tambahan :
Hendaknya seseorang tidak menolak turunnya hujan, sebab hujan adalah berkah. Jika pun itu ia ingin lakukan, maka yang disunnahkan adalah berdoa kepada Allah ta’ala agar hujan dialihkan ke tempat lain yang membutuhkan, sebagaimana doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ.
“Ya Allah, berikanlah hujan di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya Allah, berikanlah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah, dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan”.[14]


[1] Tafsir Al-Baghawiy 4/221 dan Tafsir Al-Qurthubiy 17/6.
[2] Tafsir Ibni Katsiir 2/234. Pada Tafsir Al-Khaazin 2/266 disebutkan :
سمي المطر بركة السماء لثبوت البركة فيه وكذا ثبوت البركة في نابت الأرض لأنه نشأ عن بركات السماء وهي المطر
“Hujan dinamakan sebagai berkah dari langit karenanya keberadaan berkah padanya. Begitu juga keberkahan yang yang ada pada tumbuh-tumbuhan di bumi karena tumbuh dari berkah yang datang dari langit, yaitu hujan”.
[3] Shahih Muslim 1/84, Kitaabul-IimaanBaab Bayaani Kufri Man Qaala Muthirnaa bin-Nau’.
[4] Tafsir Ath-Thabariy 17/20.
[5] Yaitu : Kamu menggembalakan ternak-ternakmu di sana, di antaranya : onta gembalaan (al-ibilus-saaimah). Lafadh as-suum artinya adalah penggembalaan. Lihat Tafsir Ibni Katsiir2/565.
[6] Yaitu : gandum, sya’iir, dan biji-bijian yang dapat diketam. Diambil dari Tafsir Al-Baghawiy4/221.
[7] Tafsir Al-Baghawiy 4/157.
[8] Shahih Al-Bukhariy 2/21, Kitaabul-Istisqaa’Baab Maa Yuqaalu Idzaa Matharat.
[9] Shahih Al-Bukhariy 2/23, Kitaabul-Istisqaa’, Baab Qaulillaahi ta’ala : Wa Taj’aluuna Rizqakum Annakum Tukadzdzibuun (QS. Al-Waqi’ah : 82); dan Shahih Muslim 1/83, Kitaabul-Iimaan, Baab Bayaani Kufri Man Qaala Muthirnaa bin-Nau’. Keduanya berasal dari riwayat Zaid bin Khaalid Al-Juhhaniy radliyallaahu ‘anhu.
[10] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Shahih-nya 2/22, Kitaabul-Istisqaa’, Baab Tamathara fil-Mathari Hattaa Yatahaadara ‘alaihi Lihyatihi ; dan Muslim dalam Shahih-nya 2/612,Kitaabul-Istisqaa’, Baab Ad-Du’aa’i fil-Istisqaa’. Ini adalah lafadh Al-Bukhariy.
[11] Yaitu menyingkap sebagian badan beliau. Syarh An-Nawawiy li-Shahih Muslim 6/195.
[12] Shahih Muslim 2/615, Kitaab Shalaatil-Istisqaa’, Baab Ad-Du’aa’i fil-Istisqaa’.
[13] Al-Adabul-Mufrad oleh Al-Bukhariy, hal. 542, Baab At-Tayammum bil-Mathar.
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil-Mufrad hal. 476 – Abul-Jauzaa’.
[14] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1013, Muslim 897, Ibnu Khuzaimah no. 1778, Abu Ya’laa no. 3334 & 3509, Ibnu Hibban no. 2858-2859, dan yang lainnya.- Abul-Jauzaa’.

sumber : http://abul-jauzaa.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar